[PUISI] Ayah yang Berkisah Nabi Idris

 


Dalam senandung kisah, sang Ayah berkata, 

Ku ingin kau dengar, kau pahami makna 

Tentang seorang nabi, Nabi Idris namanya, 

Kisahnya tersembunyi dalam lapisan waktu.


"Dengarlah anakku, dalam zaman yang silam, 

Nabi Idris hidup, bertapa di tanah ini. 

Seperti embun pagi yang menari-nari, 

Hikmahnya bersemi, penuh dengan hikayati."


"Idris, sang penulis yang berhati mulia, 

Menorehkan kata-kata dengan pena yang sunyi. 

Majestik alam menjadi teman setianya, 

Tulisan-tulisannya mengalun seperti melodi."


"Majalah langit menjadi kitabnya yang abadi, 

Dia mengungkapkan makna dengan penuh majas. 

Seperti bunga mawar yang terasa wangi,

 Kata-katanya melambangkan semangat yang menggegas."


"Anakku, dengarlah tentang langit yang gemilang, 

Nabi Idris memahami rahasia-rahasia-Nya. 

Dia melintasi pelangi, menyentuh awan putih, 

Mengurai makna yang tersirat dalam setiap bayangan."


"Nabi Idris, sang penyair penuh pesona, 

Dengan kata-katanya, menyulam benang-benang keajaiban. 

Seperti kilat yang menyambar di langit malam, 

Kata-katanya menggetarkan hati dan perasaan."

"Dalam khayalannya, ia menemui malaikat, 

Menyaksikan surga dan segala keindahannya. 

Dalam bait-bait puisinya yang tersusun rapi, 

Menggambarkan cinta-Nya yang tak terkatakan."


"Anakku, renungkanlah hikmah dari Nabi Idris, 

Melalui kata-katanya, hiduplah dengan bijaksana. 

Seperti pena yang menari di atas kertas putih, 

Jadilah insan yang beriman dan penuh hikmat, wahai mawar hidupku."

Dalam senyuman, sang Ayah menyelesaikan cerita, 

Anaknya terpesona, memandang dengan penuh cinta. 

Kisah Nabi Idris mengalun dalam hati, 

Menginspirasi mereka untuk menjalani hidup yang berarti.


Bonang, 2021


Komentar