[PUISI] Kisah Air Bah Nabi Nuh dan Tsunami Aceh



Di negeri Aceh yang indah nan megah, 

Seorang Ibu berdiam di sela-sela waktu. 

Dalam hatinya, cerita dahsyat terpatri, 

Peristiwa air bah dan tsunami yang menggemparkan.


Ia duduk di samping anak-anaknya, 

Mata mereka memancarkan keingintahuan. 

Ibu mulai bercerita dengan hati yang pilu, 

Tentang kisah Nabi Nuh dan tragedi yang tak terlupakan.


"Anakku, dengarlah kisah yang berliku, 

Tentang peristiwa air bah yang dahsyat melanda. 

Nabi Nuh, utusan Tuhan yang teguh, 

Diutus-Nya untuk mengajak manusia kembali kepada-Nya.


"Bangunlah, wahai umat yang tersesat, 

Hiduplah dalam kebenaran dan taat. 

Namun mereka mengejek, meremehkan Nabi, 

Mereka terlena dalam kesombongan dan berfoya-foya.


"Tapi Nabi Nuh tak patah semangat, 

Mendirikan bahtera sebagai peringatan. 

Hewan-hewan bergabung, masuk ke dalam, 

Namun manusia hanya menertawakannya."


Ibu mengingatkan tentang keberanian Nabi Nuh, 

Dalam menghadapi cemoohan dan hujatan. 

Ia mengajak anak-anaknya merenung, 

Mengintrospeksi diri dan kembali kepada kebenaran.


Lalu Ibu menyentuh luka yang belum sembuh, 

"Tsunami Aceh, tragis dan menyakitkan. 

Seperti air bah zaman Nabi Nuh dulu, 

Lautan air melanda, menghancurkan segala yang ada.


"Rumah-rumah tergulung, nyawa melayang, 

Tsunami mengguncang bumi Aceh yang damai. 

Namun di tengah duka yang mendalam, 

Kita bangkit bersama, saling berbagi.


"Ibu-ibu yang kuat, bapak-bapak yang tangguh, 

Anak-anak yang penuh semangat dan harapan. 

Bersama-sama kita bangkit dari puing-puing, 

Membangun kembali, mengembalikan kehidupan.


"Tsunami Aceh, sebagai peringatan yang pedih, 

Agar kita jangan terlena dalam kesombongan. 

Seperti peristiwa air bah zaman Nabi Nuh, 

Kita diingatkan untuk kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.


"Anak-anakku, jagalah hati dan budi, 

Belajarlah dari kisah Nabi Nuh dan Aceh yang tegar. 

Saling tolong menolong, menjaga kebersamaan, 

Dalam cinta kasih dan perdamaian yang abadi."


Ibu melanjutkan cerita dengan mata yang berkaca, 

Mengajak anak-anaknya merenung dan bersyukur. 

Di negeri Aceh yang terkenang penderitaan, 

Tumbuhlah generasi yang kuat dan berdaya.


Bonang, 2021

Komentar